Nabi Musa Alaihissalam
Nabi Musa Alaihissalam diutus untuk berdakwah di negeri Mesir, dan mengajak Bani Israil menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Musa dan Harun adalah keturunan ke-4 dari Nabi Ya’qub Alaihissalam yang tinggal di Mesir sejak Nabi Yusuf berkuasa disana. Mesir saat itu dikuasai oleh Fir’aun. Penduduknya terdiri dari 2 bangsa, yaitu penduduk asli Mesir yang disebut sebagai orang Qubti, dan orang Israil, yaitu keturunan Nabi Ya’qub Alaihissalam.
Nabi Musa Alaihissalam diutus untuk berdakwah di negeri Mesir, dan mengajak Bani Israil menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Musa dan Harun adalah keturunan ke-4 dari Nabi Ya’qub Alaihissalam yang tinggal di Mesir sejak Nabi Yusuf berkuasa disana. Mesir saat itu dikuasai oleh Fir’aun. Penduduknya terdiri dari 2 bangsa, yaitu penduduk asli Mesir yang disebut sebagai orang Qubti, dan orang Israil, yaitu keturunan Nabi Ya’qub Alaihissalam.
Kebanyakan orang Qubti menduduki jabatan-jabatan tinggi, sedang orang
Israil hanya berkedudukan rendah, seperti buruh, pelayan dan pesuruh. Firaun memerintah dengan tangan besi. Ia diktator bengis yang tidak
berperi kemanusiaan. Mabuk dan rakus kekuasaan, sampai-sampai ia berani
menyebut dirinya sebagai Tuhan.
Kekejaman Fir’aun Membunuh Bayi Laki-laki
Suatu ketika, Fir’aun bermimpi, yang oleh dukun peramalnya mimpi itu
diartikan dengan akan lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Israil
yang akan merampas kekuasaan raja. Seketika itu Fir’aun menginstruksikan
seluruh pasukannya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.
Ibu Musa, Yukabad, istri Imron bin Qahat bin Lewi bin Ya’qub
Alaihissalam, merasa sangat gelisah karena begitu ketatnya penyelidikan
para petugas. Suatu ketika ibu Musa mendapat petunjuk melalui mimpinya
agar anaknya yang berusia 3 bulan dimasukkan ke dalam kotak lalu
dihanyutkan ke sungai Nil. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjamin bahwa
bayinya pasti akan selamat, bahkan Yukabad kelak tetap akan dapat
merawatnya.
Isyarat itu dilaksanakan dengan penuh ketabahan dan
tawakal. Kakak Musa diperintahkan untuk mengikuti kemana peti itu hanyut
dan di tangan siapakah Musa nanti ditemukan. Kotak yang berisi bayi itu
tiba-tiba tersangkut di pohon dan berhenti di belakang rumah Fir’aun.
Puteri Fir’aun menemukan peti tsb, dan ia adalah seorang yang
berpenyakit belang. Ketika menyentuh Musa, mendadak penyakitnya sembuh.
Dengan perasaan gembira ia membawa peti itu kepada Asiah, istri Fir’aun,
dan memberitahu apa yang telah terjadi. Asiah mengambil bayi itu dan
berniat untuk memeliharanya.
Asiah adalah seorang yang beriman
kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun lantaran takut oleh kekejaman
Fir’aun, ia menyembunyikan keimanannya. Ketika itu Fir’aun mendengar
adanya wanita cantik bernama Asiah, dan ia pun menikahinya. Namun
tatkala ia hendak menggauli istrinya itu, seluruh badannya tiba-tiba
menjadi kaku sehingga ia pun tidak bisa mendekatinya, hanya bisa
memandangnya.
Fir’aun merasa curiga terhadap bayi yang ditemukan
istrinya, tetapi Asiah tetap bersikeras untuk memeliharanya karena ia
sudah lama mendambakan anak. Bayi itu oleh Asiah diberi nama Musa, yang
artinya air dan pohon (mu = air, sa = pohon). Di antara sejumlah
inang pengasuh pilihan Asiah, bayi Musa hanya mau menyusu pada Yukabad,
sehingga Asiah akhirnya menerima Yukabad sebagai inang pengasuh Musa.
Dengan demikian janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa Yukabad tetap akan
mendapatkan kembali bayinya terpenuhi.
Kisah ini dapat ditemui dalam surat Al-Qasas: 4-13.
Musa Meninggalkan Mesir
Setelah selesai masa penyusuan bersama ibunya, Musa dikembalikan lagi
ke istana Fir’aun. Ia dipelihara sebagaimana anak-anak raja yang lain.
Berpakaian seperti Fir’aun, mengendarai kendaraan Fir’aun, sehingga ia
dikenal sebagai Pangeran Musa bin Fir’aun.
Walaupun dididik dalam
tradisi istana, sejak kecil Musa memahami bahwa ia bukan anak Fir’aun
melainkan keturunan Bani Israil yang tertindas. Karena prihatin terhadap
nasib rakyat yang dianiaya oleh keluarga raja dan para pembesar
kerajaan, Musa bertekad untuk membela kaumnya yang lemah.
Suatu
saat tindakan Musa membela seorang anggota kaumnya yang berkelahi
melawan seorang dari golongan Fir’aun menyebabkan yang terakhir ini
tewas. Seorang saksi yang melihat kejadian itu lalu melaporkan pada
Fir’aun. Mengetahui bahwa Musa membela orang Israil, Fir’aun segera
memerintahkan orang untuk menangkap Musa. Akhirnya Musa melarikan diri
dan memutuskan untuk meninggalkan Mesir. Ia bertaubat dan memohon ampun
kepada Allah. Saat itu ia berusia 18 tahun.
Kisah ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 14-21.
Musa pergi ke Madyan, kota tempat tinggal Nabi Syu’aib Alaihissalam.
Dari Mesir ke Madyan harus ditempuh berjalan kaki selama 8 hari. Karena
kelelahan dan merasa lapar, Musa beristirahat di bawah pepohonan. Tak
jauh dari tempatnya beristirahat, ia melihat dua orang gadis berusaha
berebut untuk mendapatkan air di sumur guna memberi minum ternak yang
mereka gembalakan. Kedua gadis itu berebutan dengan sekelompok pria-pria
kasar yang tampak tidak mau mengalah. Melihat itu, Musa segera
bergerak menolong kedua gadis tsb. Laki-laki kasar tadi mencoba melawan
Musa, tapi Musa dapat mengalahkan mereka.
Musa Menikah
Kedua gadis ini tak lain adalah putri-putri Nabi Syu’aib Alaihissalam.
Mereka lalu melaporkan kejadian yang telah dialami bersama Musa kepada
ayah mereka. Syu’aib lalu menyuruh kedua putrinya untuk mengundang Musa
datang ke rumah mereka.
Musa memenuhi undangan itu. Keluarga
Syu’aib sangat senang melihat Musa. Sikapnya sopan dan tampak sekali ia
seorang pemuda bermartabat dari kalangan bangsawan. Kepada Syu’aib, Musa
menceritakan peristiwa pembunuhan yang telah dilakukannya, yang
menyebabkan ia terusir dari Mesir. Syu’aib menyarankan agar ia tetap
tinggal di rumahnya agar terhindar dari kejaran orang-orang Fir’aun.
Syu’aib bermaksud menikahkan Musa dengan salah seorang putrinya.
Sebagai syarat mas kawin, Musa diminta bekerja menggembalakan
ternak-ternak milik Nabi Syu’aib selama 8 tahun. Musa menyanggupi syarat
tsb, bahkan ia menggenapkan masa kerjanya menjadi 10 tahun. Ia
menjalani pekerjaannya dengan sabar. Selama itu, nampaklah oleh keluarga
Syu’aib bahwa Musa adalah pemuda yang kuat, perkasa, jujur dan dapat
diandalkan. Tak salah jika Nabi Syu’aib mengambilnya sebagai menantu.
Musa sangat bahagia hidup bersama istrinya. Nabi Syu’aib juga lega karena anaknya mendapat pelindung yang dapat dipercaya. Kisah tentang hal ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 22-28.
Musa Kembali ke Mesir
Sepuluh tahun setelah meninggalkan Mesir, Musa berniat kembali ke sana
bersama istrinya. Musa sadar, tidak mustahil bahwa orang-orang Mesir
masih akan mencarinya, oleh sebab itu ia dan istrinya tidak berani
melalui jalan biasa melainkan memilih jalan memutar.
Sampai suatu
malam, mereka tersesat tak tahu arah mana yang harus ditempuh untuk
meneruskan perjalanan ke Mesir. Saat itulah Musa melihat ada cahaya api
terang benderang di atas sebuah bukit. Musa berkata kepada istrinya,
“Tunggu disini, aku akan mengambil api itu untuk menerangi jalan kita.” Tatkala Musa menghampiri api tersebut, tiba-tiba terdengar suara menyeru,
“Hai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu.
Sesungguhnya kamu berada di lembah suci Thuwa. Dan aku telah memilih
kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya
Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan
dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”
Inilah wahyu pertama yang
diterima langsung oleh Nabi Musa Alaihissalam. Dengan diterimanya wahyu
ini, maka Musa telah diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Sebagai rasul,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya mukjizat berupa tongkat yang bisa
berubah menjadi ular dan tangannya yang dapat bersinar putih cemerlang
setelah dikepitkan di ketiaknya.
Kisah ini dapat dilihat pada surat Tâhâ: 9-23.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk
berdakwah kepada Fir’aun. Musa masih merasa takut karena dulu ia pernah
membunuh orang Mesir, namun Allah menjanjikan perlindungan untuknya,
maka tentramlah hatinya. Untuk lebih memantapkan dakwahnya, Musa memohon
kepada Allah agar ia ditemani oleh Harun, saudaranya, karena Harun amat
cakap dalam berbicara dan berdebat. Permintaan Musa dikabulkan. Harun
yang masih berada di Mesir digerakkan hatinya oleh Allah sehingga ia
berjalan menemui Musa.
Hal tesebut dinyatakan dalam surat Al-Qasas: 32-35 dan surat Tâhâ: 42-47.
Akhirnya bersama-sama Harun, Musa menghadap Fir’aun. Ia mengadakan
dialog dengan Fir’aun tentang Tuhan. Namun Fir’aun menanggapinya dengan
sinis dan mengejek Musa tak tahu diri. Dulu ia diasuh dan dibesarkan di
istana Mesir, tapi kini ia malah berbalik menentang Fir’aun. Musa
menjawab bahwa semua itu terjadi disebabkan karena ulah Fir’aun sendiri.
Seandainya Fir’aun tidak memerintahkan membunuh bayi laki-laki, tidak
mungkin ia dihanyutkan di sungai Nil sampai akhirnya ditemukan dan
diangkat anak oleh istri Fir’aun. Musa tidak merasa berhutang budi pada
Fir’aun.
Musa mengatakan bahwa sesungguhnya Fir’aun bukanlah
Tuhan. Ada Tuhan lain yang berhak disembah, Tuhan nenek moyang mereka,
Tuhan seluruh alam semesta. Fir’aun sangat murka dan meminta Musa untuk
menunjukkan tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Keberhasilan Musa Melawan Ahli-ahli Sihir Fir’aun
Di depan masyarakat luas, Nabi Musa Alaihissalam dapat menunjukkan
mukjizatnya menghadapi ahli-ahli sihir Fir’aun. Musa mempersilakan
ahli-ahli sihir Fir’aun untuk mempertunjukkan kebolehan mereka lebih
dulu. Mereka lalu melemparkan tali dan tongkat-tongkatnya. Tak lama
kemudian tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular yang
ribuan ekor banyaknya. Fir’aun tertawa bangga menyaksikan kebolehan para
ahli sihirnya. Masyarakat yang hadir disana juga terkagum-kagum.
Dengan tenang Musa melemparkan tongkatnya, tongkat itu segera berubah
menjadi ular yang sangat besar dan langsung melahap ular-ular para ahli
sihir Fir’aun. Dalam waktu singkat, ular-ular itu habis ditelan oleh
ular Nabi Musa.
Para ahli sihir itu terbelalak heran. Apa yang
diperlihatkan Musa bukanlah seperti sihir yang mereka pelajari dari
syaitan. Sadar akan hal itu, para ahli sihir tsb berlutut kepada Musa,
dan menyatakan diri sebagai pengikut ajaran yang dibawanya. Mereka
bertaubat dan hanya akan menyembah Allah saja.
Kisah ini dijelaskan dalam surat Asy-Syu’arâ’: 18-51
Fir’aun sangat murka melihat pembelotan para ahli sihir yang telah
bertaubat itu. Ia mengancam akan menyiksa mereka dengan siksaan yang
sangat kejam, namun para ahli sihir itu tetap memilih menjadi pengikut
Musa. Akhirnya Fir’aun memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki
mereka, serta menyalib mereka di batang pohon kurma. Mereka pun
menerimanya dengan sabar dan tetap beriman kepada Allah. Jumlah mereka
saat itu 70 orang.
Azab bagi Fir’aun dan pengikutnya
Kejengkelan Fir’aun memuncak setelah Nabi Musa Alaihissalam memperoleh
pengikut yang lebih banyak. Fir’aun menjadi semakin kejam terhadap Bani
Israil. Nabi Musa Alaihissalam senantiasa menyuruh kaumnya untuk
bersabar menghadapi kesewenang-wenangan Fir’aun. Fir’aun pun tak
henti-hentinya mengejek dan menghina Musa.
Karena semakin lama
tindakan Fir’aun makin merajalela, Nabi Musa Alaihissalam berdoa kepada
Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar Fir’aun dan pengikutnya diberi azab.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa Musa. Kerajaan Fir’aun dilanda
krisis keuangan. Selain itu wilayah Mesir dilanda kemarau panjang.
Banyak panen yang gagal, tanaman dan pepohonan banyak yang mati, disusul
badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka. Jutaan belalang
berdatangan menyerbu hewan dan perkebunan, juga kutu dan katak. Setelah
kemarau, muncul banjir besar. Akibat banjir itu kemudian juga muncul
wabah penyakit. Anak laki-laki bangsa Mesir mendadak mati, tak
terkecuali anak-anak Fir’aun sendiri, termasuk putra mahkota.
Pengikut Fir’aun mendatangi Nabi Musa Alaihissalam untuk memohon agar
azab itu dicabut dari mereka dengan janji mereka akan beriman. Namun
ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan permintaan itu, mereka
ingkar terhadap janjinya.
Riwayat ini terdapat dalam surat Al-Mu’minûn: 26, Az-Zukhruf: 51-54, Yûnus: 88-89, dan Al-A’râf: 130-135.
Peristiwa Laut Merah Terbelah
Bani Israil yang makin
menderita karena ulah Fir’aun dan pengikutnya meminta Nabi Musa
Alaihissalam untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Setelah mendapat
wahyu dari Allah agar mengajak kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Musa
lalu membawa kaumnya ke Baitulmakdis. Mereka pergi secara diam-diam di
malam hari. Ketika sampai di tepi Laut Merah, mereka baru menyadari
bahwa tentara Fir’aun mengejar mereka. Para pengikut Musa sangat panik
karena tidak bisa lari kemana pun. Saat itulah turun wahyu agar Musa
memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun membelah hingga terbentang jalan
bagi Musa dan pengikutnya untuk menyeberang. Fir’aun dan tentaranya
mengejar rombongan itu, namun ketika Musa dan pengikutnya telah sampai
di tepi sementara Fir’aun dan tentaranya masih di tengah laut, atas
perintah Allah laut pun kembali menutup hingga Fir’aun dan pasukannya
tenggelam.
Di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, Fir’aun
sempat bertaubat dan menyatakan diri beriman kepada Allah. Namun taubat
menjelang ajal yang dilakukan oleh Fir’aun itu sudah terlambat dan tidak
lagi diterima oleh Allah, sehingga matilah ia dalam keadaan tetap
kafir.
Kisah tentang ini terdapat dalam surat Tâhâ: 77-79, Asy-Syu’arâ: 60-68, dan Yûnus: 90-92.
Ternyata, mayat Fir’aun tetap utuh sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur’an surat Yûnus: 92, sebagai tanda bagi umat yang kemudian. Ini
telah terbukti dengan diketemukannya mummi Fir’aun (Pharaoh) di Mesir
pada abad ke-20 M.
Karunia Bagi Bani Israil
Dalam
perjalanan ke Mesir, Bani Israil sangat manja. Saat mereka haus, Musa
memukulkan tongkatnya ke batu. Dari batu tsb, memancarlah 12 mata air,
sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing
suku memiliki mata air sendiri. Di Gurun Sinai yang panas terik, tak
ada rumah untuk dihuni, tak ada pohon untuk berteduh, maka Allah
menaungi mereka dengan awan.
Ketika bekal makanan dan minuman
mereka habis, mereka pun meminta Musa memohon pada Allah Subhanahu Wa
Ta’ala agar diberikan makanan dan minuman, maka Allah menurunkan kepada
mereka Manna dan Salwa. Manna adalah makanan yang turun dari udara
seperti turunnya embun, turun di atas batu dan daun pohon. Rasanya manis
seperti madu. Sedang Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang
berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi
lantaran banyaknya.
Mendapat karunia dan rezki yang demikian
melimpahnya dari Allah, Bani Israil bukannya bersyukur, malah mereka
meminta makanan dari jenis yang lain lagi. Disinilah mulai terlihat
betapa Bani Israil itu sangat kufur terhadap nikmat Allah.
Berbagai tuntutan dan permintaan dari Bani Israil ini diceritakan dalam surat Al-A’râf: 160 dan Al-Baqarah: 61.
Turunnya kitab Taurat
Setelah persoalan dengan Fir’aun selesai, Nabi Musa Alaihissalam
memohon untuk diberikan kitab suci sebagai pedoman. Allah Subhanahu Wa
Ta’ala lalu memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk berpuasa selama
30 hari dan pergi berkhalwat ke Bukit Thur Al-Aiman atau Thursina.
Sebelum pergi, Musa meminta Harun menjadi wakilnya untuk mengurus
kaumnya.
Setelah berpuasa selama 30 hari, Allah memerintahkannya
berpuasa 10 hari lagi untuk menggenapkan ibadahnya menjadi 40 hari.
Setelah itu Allah berbicara kepadanya dengan Kalam-Nya yang Azali,
sehingga Musa pun memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia
lain.
Dalam kesempatan bermunajat di Bukit Thursina ini, timbul
kerinduan Musa untuk bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia pun meminta
agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan dirinya untuk melihat
Zat-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan bahwa ia telah meminta
sesuatu yang diluar kesanggupannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian
menyuruh Musa untuk melihat ke sebuah bukit. Allah akan menampakkan
wujudnya kepada bukit itu. Jika bukit itu tetap tegak berdiri, maka Musa
dapat melihat-Nya, namun jika bukit yang lebih besar darinya itu tak
mampu bertahan, maka lebih-lebih lagi dirinya. Ketika Musa mengarahkan
pandangan ke bukit tsb, seketika itu juga bukit itu hancur luluh.
Melihat itu Musa merasa terkejut dan ngeri, ia pun jatuh pingsan.
Setelah sadar, ia bertasbih dan bertahmid seraya memohon ampun kepada
Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kelancangannya. Selanjutnya, Allah
Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kitab Taurat sebagai kitab suci yang
berupa kepingan-kepingan batu. Di dalamnya tertulis pedoman hidup dan
penuntun beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kisah munajat Nabi Musa Alaihissalam di Bukit Thursina ini diceritakan dalam surat Al-A’râf: 142-145.
Patung Anak Sapi
Sepeninggal Nabi Musa Alaihissalam, Bani Israil dihasut oleh seorang
munafik bernama Samiri. Karena keyakinan tauhid mereka yang memang belum
terlalu tebal, dengan mudah mereka termakan hasutan Samiri. Bani Israil
membuat patung anak sapi yang disembah sebagai tuhan mereka.
Sebelum pergi ke bukit Thursina, Musa berkata kepada kaumnya bahwa ia
akan meninggalkan mereka tidak lebih dari 30 hari. Ketika Allah
memerintahkannya untuk menambah ibadahnya 10 hari lagi sehingga
bertambah lama kepergiannya, maka mereka menganggapnya telah
melupakannya. Samiri mengatakan kepada Bani Israil bahwa keterlambatan
Musa ini disebabkan karena mereka telah membuat marah Tuhan dengan
mengambil perhiasan-perhiasan dari kuburan orang-orang Mesir. Maka untuk
meminta ampun kepada Tuhan dan agar Musa mau kembali pada mereka,
mereka harus melemparkan perhiasan-perhiasan tsb ke dalam api.
Mereka pun percaya dengan hasutan Samiri. Para wanita-wanita Bani Israil
lalu melemparkan perhiasan-perhiasan emas mereka ke dalam api. Dari
emas yang terkumpul itu Samiri lalu membuat patung anak sapi. Dengan
teknik khusus, ia membuat angin bisa masuk dan menimbulkan suara dari
mulut patung itu sehingga seolah-olah patung itu dapat berbicara.
Kemudian Samiri menyuruh Bani Israil untuk menyembahnya.
Nabi
Harun Alaihissalam tidak berdaya menghadapi kaumnya yang kembali murtad
itu. Ketika Nabi Musa Alaihissalam kembali, ia sangat marah dan bersedih
hati melihat perilaku kaumnya. Mula-mula ia pun marah kepada Harun yang
dianggapnya tidak bisa menjaga kaumnya dengan baik, namun setelah
mendengar penjelasan dari Harun, ia pun tenang kembali. Ia mengusir
Samiri dan menjelaskan pada kaumnya tentang perbuatan mereka yang salah.
Sebagai hukuman, Samiri diberi kutukan oleh Allah, jika ia disentuh
atau menyentuh manusia, maka badannya akan menjadi panas demam. Itulah
azab Samiri di dunia, seumur hidupnya ia tidak bisa berhubungan dengan
siapa pun.
Setelah Samiri pergi, Musa membakar patung anak sapi
sembahan Bani Israil dan membuang abunya ke laut. Allah Subhanahu Wa
Ta’ala kemudian memerintahkan Musa Alaihissalam agar membawa sekelompok
kaumnya untuk memohon ampun atas dosa mereka menyembah patung anak sapi.
Musa mengajak 70 orang terpilih dari Bani Israil ke Bukit Thursina.
Setelah mereka berpuasa menyucikan diri, muncullah awan tebal di bukit
itu. Nabi Musa Alaihissalam dan rombongannya memasuki awan gelap itu dan
bersujud. Ketika bersujud, 70 orang itu mendengar percakapan antara
Nabi Musa Alaihissalam dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Timbul
keinginan mereka untuk melihat Zat Allah. Bahkan mereka menyatakan tidak
akan beriman sebelum melihat-Nya. Seketika itu pula tubuh mereka
tersambar halilintar hingga mereka pun tewas.
Nabi Musa
Alaihissalam memohon agar kaumnya diampuni dan dihidupkan kembali. Maka
Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun membangkitkan kembali 70 orang pengikut
Musa itu. Musa lalu menyuruh mereka bersumpah untuk berpegang teguh pada
kitab Taurat sebagai pedoman hidup, dan beriman kepada Allah Subhanahu
Wa Ta’ala.
Cerita ini terdapat dalam Al Qur’an surat Al-A’râf: 149-155 dan Al-Baqarah: 55, 56, 63, 64.
Sapi Betina (Al Baqarah)
Suatu hari terjadi peristiwa
pembunuhan di antara kaum Nabi Musa. Untuk mengetahui siapa pembunuh
orang tsb, atas petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Musa memerintahkan
kaumnya untuk mencari seekor sapi betina. Dengan lidah sapi itu nantinya
mayat yang terbunuh akan dipukul dan akan hidup lagi atas kehendak dan
izin dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kaum Bani Israil sebenarnya
enggan melaksanakan perintah ini, karenanya mereka sangat cerewet dan
banyak bertanya dengan harapan supaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akhirnya
membatalkannya, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an surat
Al-Baqarah: 67-71.
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada
kaumnya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi
betina. Mereka berkata: Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?
Musa menjawab: Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah
seorang dari orang-orang yang jahil. (QS. 2:67)
Mereka menjawab:
Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami,
sapi betina apakah itu? Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman
bahwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda,
pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu. (QS. 2:68)
Mereka berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu
untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. Musa menjawab:
Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang
yang memandangnya. (QS. 2:69)
Mereka berkata: Mohonkanlah kepada
Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat
sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami
dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk
memperoleh sapi itu). (QS. 2:70)
Musa berkata: Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah
dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman,
tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata: Sekarang barulah
kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka
menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
(QS. 2:71)
Nama surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina diambil karena dalam surat ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina.
Dapat dilihat pada ayat-ayat tsb bahwa sikap Bani Israil yang cerewet
justru telah menyulitkan mereka sendiri. Seandainya ketika diperintahkan
pertama kali mereka langsung melaksanakannya, tentulah mereka tidak
akan repot, tetapi mereka malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
rumit sehingga hampir saja mereka tidak dapat menemukan sapi sesuai
ciri-ciri yang diterangkan oleh Musa.
Begitu sapi sudah
diperoleh, mereka lalu menyembelihnya dan lidah sapi itu dipukulkan ke
tubuh mayat orang yang terbunuh. Seketika itu ia menjadi hidup kembali
dan menceritakan bahwa ia telah dibunuh oleh sepupunya sendiri.
Allah Mengharamkan Tanah Palestina Bagi Bani Israil
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam membawa
kaumnya ke Palestina, tempat suci yang telah dijanjikan bagi Nabi
Ibrahim Alaihissalam sebagai tempat tinggal anak cucunya. Bani Israil
yang telah mendapat berbagai karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala
adalah kaum yang keras kepala dan tidak bersyukur.
Sebelum
mengajak kaumnya berhijrah, Musa mengutus perintis jalan untuk
menyelidiki tentang penduduk penghuni Palestina. Ketika kembali, para
perintis jalan itu mengabarkan bahwa tanah suci tsb dihuni oleh suku
Kana’an yang kuat-kuat, dan kota-kotanya memiliki benteng yang kokoh.
Mengetahui hal itu, merasa gentarlah Bani Israil dan tidak mau mematuhi
perintah Musa untuk menyerang. Mereka hanya mau kesana jika suku itu
telah disingkirkan terlebih dahulu.
Nabi Musa Alaihissalam sangat
marah terhadap sikap kaumnya itu, karena sikap tsb mencerminkan bahwa
mereka belum benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji bahwa dengan
pertolongan-Nya mereka akan mampu mengalahkan suku Kana’an. Di antara
Bani Israil itu, ada 2 orang bertakwa yang menasihati mereka agar masuk
dari pintu kota supaya mereka bisa menang. Akan tetapi Bani Israil
menolak nasihat itu dan melontarkan kepada Musa kalimat yang menunjukkan
pembangkangan dan sifat pengecut, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan
berperanglah, sementara kami menunggu di sini.”
Habislah
kesabaran Musa. Ia lalu memanjatkan doa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala
memberikan putusan-Nya atas sikap kaumnya. Sebagai hukuman bagi Bani
Israil yang menolak perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu
Wa Ta’ala mengharamkan wilayah Palestina selama 40 tahun bagi mereka.
Mereka akan tersesat, padahal tanah yang dijanjikan sudah ada di depan
mata. Selama itu mereka akan berkeliaran di muka bumi tanpa memiliki
tempat bermukim yang tetap. Hal ini dikisahkan dalam surat Al-Maidah: 20-26.
Pertemuan Musa Dengan Orang Saleh
Pada suatu kesempatan berkhutbah di hadapan kaumnya, Nabi Musa
Alaihissalam mengatakan bahwa dirinyalah yang paling pandai dan
berpengetahuan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegur sikapnya ini dan
berfirman, “Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di tepi laut yang
lebih pandai darimu.” Berkatalah Musa, “Wahai Tuhanku, apa yang harus kuperbuat untuk bertemu dengannya?” Allah berfirman, “Ambillah seekor ikan kecil dan letakkan di dalam
keranjang. Dimanapun engkau kehilangan ikan itu, maka disitulah ia
berada.” Musa melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah
kepadanya. Ia mengambil seekor ikan kecil, kemudian ia pergi dengan
ditemani seorang sahayanya. Saat mereka tiba di pertemuan antara dua
buah laut, mereka duduk sejenak untuk beristirahat. Tertidurlah mereka,
sementara saat itu turun hujan sehingga ikan yang mereka bawa dapat
melompat dan meluncur ke laut. Sahaya Musa mengetahui hal ini,
namun ia lupa memberitahukannya kepada Musa. Mereka terus melanjutkan
perjalanan. Ketika mereka merasa lapar dan hendak makan, saat itulah
sahaya Musa teringat akan ikan yang hilang itu, maka ia pun memberitahu
Musa. Mendengar itu Musa sangat gembira. “Inilah yang kita cari. Mari
kita kembali untuk mengikuti jejak dimana ikan itu hilang.” Belum
sampai di tempat yang dituju, Musa telah bertemu dengan orang yang
dimaksud. Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang saleh itu dikenal dengan
nama Nabi Khidir Alaihissalam. Nabi Musa Alaihissalam yang ingin belajar
dari hamba-Nya yang saleh itu meminta agar diizinkan mengikuti Nabi
Khidir. Nabi Khidir menjawab bahwa ia tidak akan dapat sabar atas
keikutsertaannya, karena ia akan melihat tindakan-tindakan yang
bertentangan dengan syariatnya. Namun Musa berkata bahwa ia akan
bersabar dan tidak akan menentang urusan Nabi Khidir. Akhirnya Nabi
Khidir mengizinkan Musa untuk mengikutinya, namun dengan syarat bahwa
Musa tidak boleh mempertanyakan tindakan-tindakan yang akan
dilakukannya, karena pada akhirnya ia akan menceritakan rahasia di balik
tindakan-tindakannya itu.
Pergilah Musa bersama Nabi Khidir
menyusuri tepi laut. Tiba-tiba lewat di depan mereka sebuah kapal, maka
keduanya meminta kepada penumpang-penumpangnya untuk mengangkut mereka.
Mereka diizinkan menumpang, lalu keduanya pun naik ke kapal itu. Saat
para penumpang lengah, Nabi Khidir melubangi dinding kapal yang terbuat
dari kayu itu sedemikian rupa sehingga kerusakannya akan mudah untuk
diperbaiki. Musa yang melihat kejadian ini merasa ngeri dan tanpa sadar
ia lupa dengan perjanjiannya untuk tidak mengajukan pertanyaan apa pun,
maka ia pun berkata, “Apakah engkau merusak kapal orang-orang yang telah
menghormati kita? Engkau telah melakukan sesuatu yang tercela.”
Nabi Khidir mengingatkan kepada Musa akan perjanjian mereka, maka
sadarlah Musa, ia meminta supaya jangan dihukum atas kelupaannya ini.
Keduanya lalu meneruskan perjalanan dan bertemu dengan seorang anak yang
sedang bermain bersama kawan-kawannya. Nabi Khidir lalu membujuk anak
itu ikut dengannya dan membawanya ke tempat yang agak jauh dari
teman-temannya, lalu ia membunuhnya. Panas hati Musa melihat perbuatan
yang keji ini sehingga dengan marah ia berkata, “Apakah engkau membunuh
jiwa yang suci bersih tanpa dosa? Engkau telah berbuat sesuatu yang
mungkar.”
Nabi Khidir kembali mengingatkan Musa akan syarat yang
berlaku antara keduanya. Musa menyesal atas ketidaksabarannya. Ia pun
berkata, “Jika setelah ini aku bertanya lagi kepadamu, maka janganlah
menemani aku, karena sudah cukup alasan bagiku untuk berpisah denganmu.”
Kemudian keduanya pun meneruskan perjalanan kembali. Saat merasa haus
dan lapar, masuklah mereka ke sebuah desa. Mereka meminta kepada
penghuninya supaya bersedia memberi mereka makan dan menjadikan mereka
sebagai tamu, namun permintaan mereka ini ditolak dengan kasar oleh
penghuni desa tersebut.
Dalam perjalanan pulang, mereka mendapati sebuah dinding yang hampir
roboh. Nabi Khidir lalu memperbaiki dinding yang roboh itu dan
mendirikan bangunannya. Melihat ini, Musa tidak tahan lalu bertanya,
“Apakah engkau mau membalas orang-orang yang telah mengusir kita dengan
memperbaiki dinding rumah mereka? Andaikata engkau kehendaki, engkau
bisa meminta upah atas pekerjaanmu untuk membeli makanan.”
Dengan
timbulnya pertanyaan Musa ini, maka berpisahlah ia dengan Nabi Khidir.
Namun sebelum berpisah, Nabi Khidir menjelaskan rahasia-rahasia
perbuatannya. Ia berkata, “Mengenai kapal yang aku lubangi dindingnya,
itu adalah kepunyaan beberapa orang miskin yang tidak punya harta selain
itu, dan aku mengetahui bahwa ada seorang raja yang suka merampas
setiap kapal yang baik dari pemiliknya. Sebab itu aku merusaknya sedikit
supaya nantinya mudah diperbaiki lagi, dan bila raja melihatnya ia pun
menduga kapal itu adalah kapal yang buruk sehingga ia akan membiarkannya
pada pemiliknya dan selamatlah kapal itu pada mereka.
Mengenai
anak kecil yang aku bunuh, ia adalah seorang anak yang menampakkan
tanda-tanda kerusakan sejak kecil, sedang kedua orangtuanya adalah
orang-orang yang beriman dan saleh. Aku khawatir rasa kasih sayang
orangtua terhadap anaknya akan membuat mereka menyeleweng dari kesalehan
mereka dan menjerumuskannya ke dalam kekafiran dan kesombongan, maka
aku pun membunuhnya untuk menenangkan kedua orangtua yang beriman ini,
dan anak yang jahat itu semoga akan diberi gantinya oleh Allah Subhanahu
Wa Ta’ala dengan anak yang lebih baik dan lebih berbakti serta lebih
sayang kepada kedua orangtuanya.
Adapun dinding rumah yang
kudirikan, itu adalah milik dua anak yatim di kota itu yang di bawahnya
terdapat harta terpendam kepunyaan mereka, dan ayah mereka adalah
seorang yang saleh. Maka Tuhanmu yang Maha Pemurah ingin menjaga harta
itu bagi mereka sampai mereka dewasa dan mengeluarkannya.
Semua
yang kuperbuat itu bukanlah atas usahaku, melainkan itu adalah wahyu
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan inilah penjelasan dari
kejadian-kejadian yang mana engkau tidak bisa bersabar.”
Kisah pertemuan Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Khidir Alaihissalam ini terdapat dalam surat Al-Kahfi: 60-82.
Kisah Qarun dan Hartanya
Tersebutlah seorang pengikut Nabi Musa Alaihissalam yang sangat kaya,
yang bernama Qarun. Meskipun sangat kaya, namun ia tidak mau
menyedekahkan hartanya bagi fakir miskin. Nasihat-nasihat Nabi Musa
Alaihissalam tidak dipedulikannya, bahkan ia mengejek dan memfitnah Nabi
Musa Alaihissalam.
Guna memberi pelajaran pada Qarun dan memberi
contoh pada kaumnya, Musa memanjatkan doa agar Allah Subhanahu Wa
Ta’ala menurunkan azabnya pada diri hartawan itu. Allah Subhanahu Wa
Ta’ala lalu memberi azab dengan menguburkan semua harta kekayaan beserta
diri Qarun melalui bencana tanah longsor yang dahsyat.
Kisah Qarun dan hartanya ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 76-82.
Larangan Hari Sabath
Sesuai dengan syariat dalam Taurat, Nabi Musa menentukan hari Sabtu
sebagai hari untuk berkumpul dan beribadah. Pada hari itu kaum Bani
Israil dilarang untuk melakukan usaha apa pun, termasuk berniaga dan
mencari ikan. Namun pada hari Sabtu tsb justru ikan-ikan sangat banyak
terlihat di laut.
Sesungguhnya ini merupakan kehendak Allah
Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji keimanan dan ketaatan Bani Israil.
Ternyata mereka tidak tahan dengan ujian ini dan melanggar larangan hari
Sabath, oleh sebab itu Allah kemudian mengutuk sebagian mereka menjadi
kera.
Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 65 dan Al-A’râf: 166.




Komentar
Posting Komentar